Mengenal Mbah Sholeh Semendi, Mbah Hamid Pasuruan dan Mbah Mas'ud Pagerwojo

1. Mbah Sholeh Semendi 

"Tidak banyak orang yang mengerti sosok Mbah Sholeh Sumendi kecuali warga sekitar," 

Strategi berdakwah multikultural Mbah Sholeh Sumendi adalah dengan cara bertarung dengan pimpinan tertinggi di daerah tersebut. Salah satunya membuat perjanjian dengan tokoh Hindu, yang kalah mengikuti yang menang.   "Jika saya mengislamkan orang-orang miskin mereka bisa ditumpangi oleh pimpinan mereka yang memeluk agama Hindu. Namun jika pimpinan yang saya Iislamkan semua akan ikut," katanya.   

Pimpinan Hindu yang ditantang Mbah Sholeh Sumendi bernama Labu Geni. Seketika itu juga Labu Geni melemparkan ikat kepalanya atau udeng, sementara mbah sumendi mengeluarkan teklek sebagai tandingannya.   "Udeng yang terbang tinggi itu disalip oleh teklek hingga berada di atas udeng. Teklek itu akhirnya menuntun udeng dari ketinggian sampai ke tanah," ujarnya   Karena kalah, maka konsekuensinya harus menepati janji, yakni mengikuti ajaran yang menang dan menjadi muridnya. 

Sejak itulah pengikut Lebu Geni masuk Islam serta mengikuti ajaran Mbah Sholeh Semendi sebagai ajaran barunya. Dan barang siapa yang tidak mau mengikutinya, maka harus pergi dari padepokan. Karena itu, popularitas dan ketenaran Mbah Sholeh Semendi memuncak.   "Melihat kejadian tersebut Labu Geni langsung masuk Islam dan makamnya ada di sebelahnya mbah sholeh sumendi," ucapnya.   

Atas kejadian tersebut banyak orang Hindu yang masuk Islam karena pimpinannya mualaf dan memiliki banyak santri, salah satunya yang terkenal adalah Mbah Arif Segoropuro dan Mbah Sulaiman.   

Ada beberapa versi tentang cerita pertemuan Mbah Sholeh Sumendi dengan Labu Geni, namun semuanya menceritakan tentang hal yang sama yaitu tentang konflik mereka berdua hingga adu kesaktian.

Sumber: https://jatim.nu.or.id/tapal-kuda/mengenal-strategi-dakwah-multikultural-mbah-sholeh-sumendi-pasuruan-Z3Cyu



2. Mbah Hamid Pasuruan

Mayoritas masyayikh dan masyarakat menyebut Mbah Hamid Pasuruan seorang waliyullah. Kisah-kisah karomah Mbah Hamid tersebar di pelosok desa. Yang lumrah didengar masyarakat adalah wujudnya bisa menyerupai di tempat lain, membaca keinginan orang lain, dan tiap tahun pergi ke Baghdad tanpa diketahui orang lain. 

Kisah karamah lainnya, yakni bisa membaca keinginan orang lain. Hal ini pernah diceritakan oleh salah satu guru Pesantren Sidogiri yang kala itu mengampu kitab Qami Ath-Thughyan saat pondok Ramadhan tahun 2013. Dengan gamblang ia mengisahkan Kiai Hamid Pasuruan memiliki tetangga yang zalim dan acap kali mengganggunya. 

Kebiasaan tetangga itu adalah melempar batu setiap malam ke kediaman Mbah Hamid Pasuruan. Sekalipun tahu persis pelakunya, Mbah Hamid tidak pernah marah, apalagi membencinya. Saking sabarnya, Kiai Hamid meminta pada santri untuk memperbaiki beberapa kerusakan di rumahnya setiap hari. 

Di suatu hari, tetangga yang suka mengganggu itu, satu pekan lagi akan menggelar hajat. Namun belum ada tanda-tanda persiapan untuk menyuguhkan makanan pada tamu di acara nanti. Tanpa sepengetahuan siapapun, Kiai Hamid menyuruh santri untuk membeli kambing untuk diberikan kepada tetangganya tersebut. Usai kambing diantarkan, tetangga tersebut terkejut sembari menyesali perbuatannya. Sebab, hanya Mbah Hamid lah yang pertama kali tahu bahwa ia akan mengadakan hajatan. Sedangkan tetangga sekitar, belum diundang atau belum mengetahui akan kabar tersebut. 

Dari peristiwa inilah tetangga ini tahu bahwa Kiai Hamid yang selalu diganggu olehnya, seorang waliyullah. Berangkat dari penyesalan inilah ia meminta maaf dan mengucapkan terima kasih atas perhatian yang diberikan. 

Benang merah dari kisah ini adalah ibadah yang paling berat yakni sabar. Jika dikorelasikan dengan kisah Nabi Muhammad SAW yang sering dihina, bahkan dilempari kotoran, Nabi tak pernah membalasnya. Justru menjenguknya di saat mereka sakit. Dengan demikian, berbuat baik kepada orang yang pernah menzalimi kita bagian dari perbuatan baik dan anjuran Nabi.

Sumber: https://jatim.nu.or.id/tokoh/belajar-dari-kesabaran-mbah-hamid-pasuruan-QLbbG



3. Mad Mas'ud Pagerwojo

Kiai Ali Mas'ud wafat pada 25 November 1979, mengenai kelahirannya tidak diketahui secara pasti namun diperkirakan ia lahir pada tahun 1900-an. Ayahnya adalah seorang kiai pengasuh Pesantren Sono Sidokerto, Kecamatan Kunduran, Sidoarjo. “Ayah Mbah Ud adalah Kiai Sa’id bin Zarkasih, ibunya Nyai Hj Fatimah, beliau anak kedua dari 3 bersaudara,” 

Mbah Ud dikenal dengan kiai unik, nyentrik, dan juga nyleneh. Namun demikian, beliau memiliki banyak karomah. Saat masih hidup, Mbah Ud lebih banyak menghabiskan waktu di Pasar dan di tempat-tempat keramaian.  

Ketika di pasar, Mbah Ud sering 'menggoda' sejumlah pedagang dengan mengambil uang mereka. Selanjutnya, uang itu dibagikan kepada orang-orang yang ada di pasar. "Anehnya, uang pedagang itu tidak habis-habis, yang ada malah semakin bertambah," 

Makam KH Ali Mas'ud tidak pernah sepi peziarah. konon Mbah Ud pernah beberapa kali meludahi rujak atau makanan sejenis, kemudian meminta kepada orang-orang sekitar untuk memakannya. "Anehnya, orang-orang yang makan makanan itu jadi bisa ngaji" 

diceritakan bahwa Mbah Ud bersahabat baik dengan Mbah Hamid Pasuruan yang dikenal sebagai waliyullah. “Ketika Mbah Ud wafat, Mbah Hamid hadir bahkan lokasi makamnya ini ditentukan oleh Mbah Hamid,"

Sumber: https://nu.or.id/nasional/kh-ali-mas-ud-sesepuh-sidoarjo-yang-makamnya-dekat-gelora-delta-tak-pernah-sepi-peziarah-4B8i4



Posting Komentar untuk "Mengenal Mbah Sholeh Semendi, Mbah Hamid Pasuruan dan Mbah Mas'ud Pagerwojo"